Archive for Mei, 2009

Akhernya Kesampean Juga Langganana Inet Unlimited

Sekian lama (halah dangdut ne…) aku berangan-angan punya koneksi inet unlimite. Tapi angan-angan ku cuma ku pendam coz gx mungkin aku langganan inet unlimited wang jajanku pas-pasan, maklum aku masih pelajar SMA keluarga kami juga hidup pas-pasan, so GAK MUNGKIN BANGET..
Eeem pas bulan maret kemaren, TELKOM BIREUEN meresmikan PLASA TELKOM BIREUEN yang bertempat di TELKOM BIREUEN, yaitu tempat internetan buat warga BIREUEN dengan jaringan SPEEDY. Dalam acara peresmian itu di undang bapak Kapolres Bireuen, bapak Kepala SMAN 1 BIREUEN, beberapa orang guru, dan siswa-siswi dari 2 sekolah, yaitu SMAN 1 BIREUEN dan SMKN 1 BIREUEN. Dari SMAN 1 diundang 10 orang dan kebetulan aku terpilih jadi salah satu saksi peresmian PLASA TELKOM BIREUEN dengan tema “SPEEDY LEARNING CENTER”. Sebetulnya se aku gx termasuk dalam daftar 10 siswa yang dipilih oleh sekolah untuk dikirim ke TELKOM, tapi salah satu siswa yang dipilih sakit. Kawan-kawanku baik yang dari kelasku maupun yang bukan dari kelasku meminta kepada bapak KepSek agar digantikan dengan aku. Pas pulang sekolah aku baru dikasih tau ma kawan sekelasku yang kebetulan di kelasku dipilih 2 orang, katanya besok disuruh hadir ke TELKOM ada acara, spontan aku kaget nah lhoh kog aku gx dipanggel ke kantor tadi?? Padahal 2 temenku yang dipilih tadi udah dipanggil ke kantor Guru.. Aku gx pecaya ma 2 kawan ku tuch,, akhirnya aku telp kawanku yang dari kelas lain cz dia yang ngurus itu… Stelah quh nanya2 eeh bener nama q dimasuin dlm list.. Seneng b.g.t dech….
Besoknya kalo gx salah se hari kamis,, kami ber-10 hadir di TELKOM jam 07.30, wew lama bgt nunggunya rupanya acara dimulai jam 09.00.. Nah disitu kami dikenalkan dengan orang-orang IT dan Awak dari Aceh Blogger..
Kemudian tanggal 28-29 maret Aceh Blogger bekerja sama dengan ABC (ACEH BLOGGER COMMUNITY) membuat acara ‘PELATIHAN BLOGGING DAN MENULIS’. Pembukaan acara dimulai pagi 28 maret dan diundang 10 siswa-siswi dari beberapa sekolah, 5 dari SMAN 1 BIREUEN, 2 dari MAN BIREUEN, dan 3 dari SMAN 2 BIREUEN. Oya komputer di plasa TELKOM cuma ada 10 makanya cuma diundang 10 orang. Pagi itu acara dibuka dengan suara Tengku Muda panitia acara dan anggota ABC, hari itu kami dikenalkan dengan beberapa anggota ABC dari Banda Aceh.. Pelatihan hanya sampai siang, karena dari siang akan dilatih dari siswa dari sekolah lain..
Singkat cerita, Minggu 12 april kami yang mengikuti Pelatihan Blogging pada 28-29 Maret lalu diundang untuk saling kenal antara anggota yang telah mendapat pelatihan. Kebetulan banget aku duduk disamping seorang pemuda yang namanya Haekal,, nah dari orang ini neeh aku jadi tambah kepingen langganan internet unlimited coz dia juga uda pake inet unlimited.. Akhirnya setelah hari ini tanggal 28 Mei 2009 aku ke Grapari Lhokseumawe walopun sangat jauh,, uda kepingin bgt pa bole buat dari pada pengeluaran pake volume based banyak banget.. Akhirnya setelah berbincang-bincang dengan Mas CSnya lalu aku disuruh ke tempat mbak CS untuk mengisi form langganan.. Akhirnya teng teedeeng…. Kartu Halo dengan Flash Unlimited uda ditanganku..
Thanks wat Bundaku cz aku langganan atas nama Bunda, Tengku Muda Aceh Blogger yang udah memberi info-info tentang halo untukku, Bang Haekal yang uda q repotin gara-gara pengen langganan flash unlimited, TheDark member of CyberWAP Community yang uda ngebantu aku juga, kang Brewok dan Tanzip selaku admin di CyberWAP yang uda ngebantuin juga, Bang Ajima Grapari Lhokseumawe yang uda q repotin cz slalu qu telp wat info halo, Rian XI IPS B yang juga ikut ngebantu, Irun XI IPA A kawan sebangku ku yang baek n uda mau bantu, n smua kawan2 skelas ku.. YyEeAaCcHh XI IPA A

KISAH PAHIT KELUARGAKU SAAT KONFLIK

Pengalaman Pribadi Penulis
Ayo Menulis Aceh di Internet!

Pengalaman Pribadi Penulis
Kamis tanggal 7 Oktober 1999, merupakan hari yang sangat perih dan tak terlupakan bagi keluarga kami. Pada tanggal itu terjadi peristiwa diculiknya ayahku. Kami tiga bersaudara, saat kejadian itu aku berumur 7 tahun dan masih duduk di kelas 2 MIN, adikku yang baru beranjak umur 2 tahun, dan kakakku saat itu berumur 10 tahun dan duduk di kelas 5 MIN. Ayahku yang kami panggil dengan sebutan Abah adalah seorang anggota POLRI dan saat itu di tempatkan di salah satu POLSEK di kabupaten tempat tinggalku. Selain sebagai seorang POLISI ayahku juga mempunyai beberapa kerjaan sambilan salah satunya menerima pesanan semai pinang dan mengantar ke tempat pesanan. Dari pekerjaan inilah kejadian pahit ini terjadi. Sedangkan ibuku yang kami panggil bunda hanya berstatus ibu Rumah Tangga.
Pada hari sebelumnya, ayahku menerima pesanan semai pinang dari salah seorang temannya dan dia meminta untuk diantarkan pesanannya ke kebunnya yang berada di desa terpencil Blang Seupeung yang dulunya kecamatan Jeumpa Bireuen. Hari itu bunda, kakak dan adikku pulang ke rumah nenekku di Matang Glumpang Dua karena ada acara keluarga, tapi aku hari itu sekolah siang, jadi gak bisa ikut.
Kawan Abahku ada dimana-mana. Dalam berkawan ayahku tidak pernah memandang musuh atau bukan. Baginya tidak ada kata musuh, prinsip inilah yang membuat ibuku khawatir karena situasi Aceh saat itu sedang gawat. Siang itu ayahku mengajak salah satu orang kampungku yang sering juga diajaknya untuk kawan ngobrolnya.
Seperti biasa pergi dan pulang sekolah aku selalu diantar karena rumah dengan sekolahku lumayan jauh. Hari itu yang mengantarku Abahku karena sekalian mengantarkan pesanan semai pinang. Sore itu janjinya Abah juga yang akan menjemputku. Setelah jam pelajara berakhir, bel pulang pun berbunyi, aku segera keluar karena biasanya abah sudah menungguku. Tapi sungguh aku kecewa karena abah belum datang. Berjam-jam aku tunggu ayahku tetap gak datang, karena hampir magrib akhirnya aku putuskan untuk pulang sendiri dengan jalan kaki. Sampai di rumah, pintu rumahku masih terkunci, hari semakin gelap, tetanggaku mengajakku ke rumahnya tapi aku gak mau. Air mataku menetes karena hari sudah malam ayah dan ibuku belum pulang. Kemudian tetanggaku yang rumahnya agak jauh dari rumahku lewat dan membujuk aku untuk ke rumahnya, akhirnya aku mau karena aku takut juga sendirian di luar. Sampai di rumah tetanggaku aku sangat sedih. Malam semakin larut tapi aku gak mau tidur, dan akhirnya Bundaku datang dengan saudaraku dari Matang ke rumah tetanggaku, tanpa sadar aku menangis sejadi-jadinya. Malam itu juga kami pulang ke Matang. Bunda sangat cemas karena tidak biasanya Abah tidak pulang tanpa memberitahukan pada Bunda, bahkan Abah sudah janji menjemputku dari sekolah.
***
Esok harinya Bunda mengajak omku untuk mengechek ke Blang Seupeung. Daerah itu sangat sepi, kiri dan kanan jalan dipenuhi hutan rimba. Setelah bunda nanya-nanya pada warga di sana akhirnya sampai di kebun Abah mengantar semai pinang. Semai pinang sudah ada di sana, tapi dimana Abah?? Kemudian ibuku nanya ke penjaga kebun apa ayahku yang mengantarkan semai pinang ini?? Penjaga kebun menjawab “iya” dan dia mengatakan setelah menurunkan semai pinang Abahku dan kawannya langsung berangkat pulang. Saat itu ibuku meneteskan air mata dan langsung pulang ke rumah nenekku di matang.
Berhari-hari kami mencari ke berbagai tempat, namun hasilnya sia-sia. Setelah berhari-hari, pihak POLISI menemukan sebuah mobil Chevrolet di Simpang Empat Bireuen yang mereka yakini mobil Abah. Mobil tersebut telah dilumuri dengan cat merah. Setelah Bunda ke tempat ditemukan mobil, Bunda menangis, Bunda memeriksa ternyata ada nama kakakku di laci mobil. Hati Bundaku semakin hancur karena benar itu mobil Abah.
Saudara-saudara, teman, dan tetangga ikut belasungkawa atas musibah yang kami alami. Namun lain dengan kakek dan keluarga pihak ayahku, mereka menuntut untuk segera dibagikan harta warisan. Semua harta yang ditinggalakan ayahku diperhitungkan tanpa ada yang tertinggal. Bunda meminta mobil dijual untuk membayar hutang-hutang Abah. Kakek menolak dan marah-marah, dan utang tersebut kakek bilang cuma rekayasa. Sungguh perkataan yang sangat sakit bagi kami. Namun dengan kebijakan petinggi desa akhirnya mobil diakut sertakan dan mobil untuk bayar hutang.
Di tengah-tengah kesedihan kami entah siapa menyebarkan isu Abah berbalik dan masuk dalam anggota saparatis, rasanya aku ingin menendang-nendang orang yang menyebarkan isu tersebut.
***
Yang sangat menyakitkan hati kami adalah orang yang pergi dengan Abah sampai saat aku menulis cerita ini dia selalu menghindar dari kami dan saat ditanya dia tidak pernah jujur, hari ini bilang begini besok begitu. Saat kejadian itu orang itu juga menghilang. Tapi dia hanya menghilang beberapa bulan.
Adat di daerah kami kalau ada orang yang musibah diadakan zikiran oleh orang kampung. Pada suatu malam diadakan zikiran di rumahku, tapi hanya sebentar karena salah satu tokoh masyarakat meminta izin dengan alasan mau zikiran di rumah kawan abahku yang ikut hilang juga. Setelah semua yang zikiran pamit, salah satu saudaraku ikut pamit pulang juga, karena rumahnya jauh dan takut kemalaman. Saudaraku itu pulang melalui jalan yang kebetulan melewati rumah kawan Abah tersebut, alangkah kagetnya saudaraku melihat orang-orang yang berpamitan dari rumahku tadi bukannya berzikiran malah sedang asyik-asyiknya bercanda-canda. Kontan pikiran saudaraku melayang, katanya zikiran kok malah becanda-canda??
Walaupun sudah berminggu-minggu Abah belum ketemu kami tetap mencari kemana yang ada isu. Suatu hari kami mendapat isu bahwa orang kampungku yang ikut dengan Abah ada di daerah calang di rumah orang tuanya, lalu nenekku yang dari pihak Bunda langsung ke calang dengan mengintip-intip nenek berhasil melihat orang itu, nenekku lalu pulang karena takut terjadi apa-apa. Kami curiga dengan orang itu, mengapa dia tidak pulang ke kampungnya?? Ditambah lagi dengan hal yang dilihat oleh saudaraku pada waktu silam. Apakah dia terkait kasus ini?? Setelah lebih dari 1 bulan akhirnya dia pulang dan kami memintai informasi dari dia, tapi yang kami dapat cuma kalimat “Hana Lon Teupu, I Seutop Moto Langsong Itop Mata Kamoe, Hana lon teupu sapu ilon.”
Ibu Bunda meminta kami untuk pindah ke rumahnya, karena di kampungku dirasa sudah tidak aman dan kampungku terkenal dengan sarang saparatis. Akhirnya Bunda, kakak, aku dan adikku pindah ke rumah nenek di Matang. Sekolah kami juga ikut pindah, walaupun berat rasanya untuk meninggalkan kawan-kawanku. Kakakku pindah ke MIN Matang, sedangkan aku pindah ke SD di kampung nenekku, dan saat itu hari senin yang akan datang aku akn masuk sekolah.
Baru beberapa hari kami tinggal di rumah nenek, terjadi lagi sebuah tragedi yang membuat kami shock¬ dan setengah mati, terutama adikku yang masih berumur 2 tahun. Rumah nenekku dekat dengan jalan raya Banda Aceh-Medan dan di depan rumahnya ada sebuah kios yang dulunya dibuat oleh omku yang sering kami panggil Om Naz, karena Omku merantau ke Jakarta maka kios itu dikelola oleh orang tuanya dan adik satu-satunya yang lebih akrab kami panggil Acut. Saat hari itu kami sedang duduk di kios itu dan adikku sedang berjalan-jalan di depan kios dan sangat dekat dengan jalan. Tiba-tiba terdengar suara ledakan di sebelah barat yang ternyata sebuah truck Brimob dengan pasukannya di tembak oleh saparatis dan terguling ke paret, spontan adikku menangis karena dia bisa melihat langsung ke arah barat. Bunda pun berlari ke tempat adikku berdiri dan langsung dirangkul masuk ke rumah nenek. Kemudian kontak senjata pun terjadi, hari semakin gelap kemudian terdengar suara seperti ledakan tak terhitung lagi berapa kali, Acutku mengintip melalui WC dan dia melihat gumpalan asap yang sangat tebal yang ditebaknya ledakan yang berasal dari rumah yang terbakar. Kemudian Acut memberitaukan kepada kami untuk segera pergi dari rumah, lalu kami mengambil beberapa pakaian dan akan lari ke kampung tetangga yaitu ke rumah Ibunya kakek, disitu kami rasa aman. Acut dan kakek mengeluarkan sepmornya, yang paling aneh saat itu satu sepmor kami muat berlima Acut, Bunda, Kakak, Aku, dan Adikku, sedangkan Kakek hanya membonceng nenek. Kami harus mengambil jalan jauh untuk menuju ke rumah Ibu kakekku, karena jalan dekat yang biasa kami lalui tidak mungkin kami lalui, karena jalan tersebut berada di sebelah barat, walaupun jauh kami tetap harus mengambil jalur sebelah timur. Setelah kontak senjata mereda, kami baru mengetahui apa yang ditebak Acut tadi benar, bagian sebelah barat kampung nenekku telah ludes di lalap api, sekolah baruku hanya tinggal puing-puing. Maka hari senin yang telah ditetapkan aku tidak bisa masuk sekolah.
***
Keadaan ekonomi kami bisa dikatakan susah, pertama kami hanya mengandalkan gaji pensiun Abah, tapi tidak cukup karena Abahku hanya lulusan SMP. Akhirnya Bunda memikul beban yang sangat berat, pagi bangun sebelum subuh untuk bersiap-siap untuk jualan di sekolahku, siangnya membuat batu bata, dan juga ke sawah, bahkan kadang-kadang malam baru sempat ke sawah. Walaupun Bunda tidak pernah menyerah, tetap dengan semangatnya yang membara untuk menyekolahkan kami hingga berhasil, begitu juga kami sekolah dengan penuh semangat hingga kini aku sudah duduk di bangku SMAN 1 Bireuen yang merupakan sekolah terfavorit di kotaku, kakakku juga sangat menghargai kerja keras Bunda hingga kini dia sedang melalui pendidikan di salah satu Universitas ternama di Aceh, dan begitu juga dengan adikku yang manja yang sekarang hampir menamatkan SD. Namun dengan perjuangan akhirnya Bunda menjadi PNS dan di tempatkan di SD kampung nenekku.
Saat aku masuk SMP tahun 2004 kami pulang kembali ke rumah kami.

Yang sangat menyedihkan sampai sekarang Abah belum ditemukan bahkan kuburannya saja kami tidak tau, tiap hari raya kami sangat sedih melihat orang-orang bertakziah ke makam orang tuanya, tapi kami hanya bisa ngaji di rumah untuk Abah.
==SEKIAN==
Aku sekarang
AKU SEKARANG YANG SUDAH BERUSIA 17 TAHUN
Aku saat Kejadian
AKU SAAT KEJADIAN UMUR 7 TAHUN
Abah
Abah
Kami Sekeluarga
KAKAKKU (10 TAHUN), ADIKKU (2 TAHUN), Bunda dan Aku (7 TAHUN) — Foto setelah kejadian.