KISAH PAHIT KELUARGAKU SAAT KONFLIK

Pengalaman Pribadi Penulis
Ayo Menulis Aceh di Internet!

Pengalaman Pribadi Penulis
Kamis tanggal 7 Oktober 1999, merupakan hari yang sangat perih dan tak terlupakan bagi keluarga kami. Pada tanggal itu terjadi peristiwa diculiknya ayahku. Kami tiga bersaudara, saat kejadian itu aku berumur 7 tahun dan masih duduk di kelas 2 MIN, adikku yang baru beranjak umur 2 tahun, dan kakakku saat itu berumur 10 tahun dan duduk di kelas 5 MIN. Ayahku yang kami panggil dengan sebutan Abah adalah seorang anggota POLRI dan saat itu di tempatkan di salah satu POLSEK di kabupaten tempat tinggalku. Selain sebagai seorang POLISI ayahku juga mempunyai beberapa kerjaan sambilan salah satunya menerima pesanan semai pinang dan mengantar ke tempat pesanan. Dari pekerjaan inilah kejadian pahit ini terjadi. Sedangkan ibuku yang kami panggil bunda hanya berstatus ibu Rumah Tangga.
Pada hari sebelumnya, ayahku menerima pesanan semai pinang dari salah seorang temannya dan dia meminta untuk diantarkan pesanannya ke kebunnya yang berada di desa terpencil Blang Seupeung yang dulunya kecamatan Jeumpa Bireuen. Hari itu bunda, kakak dan adikku pulang ke rumah nenekku di Matang Glumpang Dua karena ada acara keluarga, tapi aku hari itu sekolah siang, jadi gak bisa ikut.
Kawan Abahku ada dimana-mana. Dalam berkawan ayahku tidak pernah memandang musuh atau bukan. Baginya tidak ada kata musuh, prinsip inilah yang membuat ibuku khawatir karena situasi Aceh saat itu sedang gawat. Siang itu ayahku mengajak salah satu orang kampungku yang sering juga diajaknya untuk kawan ngobrolnya.
Seperti biasa pergi dan pulang sekolah aku selalu diantar karena rumah dengan sekolahku lumayan jauh. Hari itu yang mengantarku Abahku karena sekalian mengantarkan pesanan semai pinang. Sore itu janjinya Abah juga yang akan menjemputku. Setelah jam pelajara berakhir, bel pulang pun berbunyi, aku segera keluar karena biasanya abah sudah menungguku. Tapi sungguh aku kecewa karena abah belum datang. Berjam-jam aku tunggu ayahku tetap gak datang, karena hampir magrib akhirnya aku putuskan untuk pulang sendiri dengan jalan kaki. Sampai di rumah, pintu rumahku masih terkunci, hari semakin gelap, tetanggaku mengajakku ke rumahnya tapi aku gak mau. Air mataku menetes karena hari sudah malam ayah dan ibuku belum pulang. Kemudian tetanggaku yang rumahnya agak jauh dari rumahku lewat dan membujuk aku untuk ke rumahnya, akhirnya aku mau karena aku takut juga sendirian di luar. Sampai di rumah tetanggaku aku sangat sedih. Malam semakin larut tapi aku gak mau tidur, dan akhirnya Bundaku datang dengan saudaraku dari Matang ke rumah tetanggaku, tanpa sadar aku menangis sejadi-jadinya. Malam itu juga kami pulang ke Matang. Bunda sangat cemas karena tidak biasanya Abah tidak pulang tanpa memberitahukan pada Bunda, bahkan Abah sudah janji menjemputku dari sekolah.
***
Esok harinya Bunda mengajak omku untuk mengechek ke Blang Seupeung. Daerah itu sangat sepi, kiri dan kanan jalan dipenuhi hutan rimba. Setelah bunda nanya-nanya pada warga di sana akhirnya sampai di kebun Abah mengantar semai pinang. Semai pinang sudah ada di sana, tapi dimana Abah?? Kemudian ibuku nanya ke penjaga kebun apa ayahku yang mengantarkan semai pinang ini?? Penjaga kebun menjawab “iya” dan dia mengatakan setelah menurunkan semai pinang Abahku dan kawannya langsung berangkat pulang. Saat itu ibuku meneteskan air mata dan langsung pulang ke rumah nenekku di matang.
Berhari-hari kami mencari ke berbagai tempat, namun hasilnya sia-sia. Setelah berhari-hari, pihak POLISI menemukan sebuah mobil Chevrolet di Simpang Empat Bireuen yang mereka yakini mobil Abah. Mobil tersebut telah dilumuri dengan cat merah. Setelah Bunda ke tempat ditemukan mobil, Bunda menangis, Bunda memeriksa ternyata ada nama kakakku di laci mobil. Hati Bundaku semakin hancur karena benar itu mobil Abah.
Saudara-saudara, teman, dan tetangga ikut belasungkawa atas musibah yang kami alami. Namun lain dengan kakek dan keluarga pihak ayahku, mereka menuntut untuk segera dibagikan harta warisan. Semua harta yang ditinggalakan ayahku diperhitungkan tanpa ada yang tertinggal. Bunda meminta mobil dijual untuk membayar hutang-hutang Abah. Kakek menolak dan marah-marah, dan utang tersebut kakek bilang cuma rekayasa. Sungguh perkataan yang sangat sakit bagi kami. Namun dengan kebijakan petinggi desa akhirnya mobil diakut sertakan dan mobil untuk bayar hutang.
Di tengah-tengah kesedihan kami entah siapa menyebarkan isu Abah berbalik dan masuk dalam anggota saparatis, rasanya aku ingin menendang-nendang orang yang menyebarkan isu tersebut.
***
Yang sangat menyakitkan hati kami adalah orang yang pergi dengan Abah sampai saat aku menulis cerita ini dia selalu menghindar dari kami dan saat ditanya dia tidak pernah jujur, hari ini bilang begini besok begitu. Saat kejadian itu orang itu juga menghilang. Tapi dia hanya menghilang beberapa bulan.
Adat di daerah kami kalau ada orang yang musibah diadakan zikiran oleh orang kampung. Pada suatu malam diadakan zikiran di rumahku, tapi hanya sebentar karena salah satu tokoh masyarakat meminta izin dengan alasan mau zikiran di rumah kawan abahku yang ikut hilang juga. Setelah semua yang zikiran pamit, salah satu saudaraku ikut pamit pulang juga, karena rumahnya jauh dan takut kemalaman. Saudaraku itu pulang melalui jalan yang kebetulan melewati rumah kawan Abah tersebut, alangkah kagetnya saudaraku melihat orang-orang yang berpamitan dari rumahku tadi bukannya berzikiran malah sedang asyik-asyiknya bercanda-canda. Kontan pikiran saudaraku melayang, katanya zikiran kok malah becanda-canda??
Walaupun sudah berminggu-minggu Abah belum ketemu kami tetap mencari kemana yang ada isu. Suatu hari kami mendapat isu bahwa orang kampungku yang ikut dengan Abah ada di daerah calang di rumah orang tuanya, lalu nenekku yang dari pihak Bunda langsung ke calang dengan mengintip-intip nenek berhasil melihat orang itu, nenekku lalu pulang karena takut terjadi apa-apa. Kami curiga dengan orang itu, mengapa dia tidak pulang ke kampungnya?? Ditambah lagi dengan hal yang dilihat oleh saudaraku pada waktu silam. Apakah dia terkait kasus ini?? Setelah lebih dari 1 bulan akhirnya dia pulang dan kami memintai informasi dari dia, tapi yang kami dapat cuma kalimat “Hana Lon Teupu, I Seutop Moto Langsong Itop Mata Kamoe, Hana lon teupu sapu ilon.”
Ibu Bunda meminta kami untuk pindah ke rumahnya, karena di kampungku dirasa sudah tidak aman dan kampungku terkenal dengan sarang saparatis. Akhirnya Bunda, kakak, aku dan adikku pindah ke rumah nenek di Matang. Sekolah kami juga ikut pindah, walaupun berat rasanya untuk meninggalkan kawan-kawanku. Kakakku pindah ke MIN Matang, sedangkan aku pindah ke SD di kampung nenekku, dan saat itu hari senin yang akan datang aku akn masuk sekolah.
Baru beberapa hari kami tinggal di rumah nenek, terjadi lagi sebuah tragedi yang membuat kami shock¬ dan setengah mati, terutama adikku yang masih berumur 2 tahun. Rumah nenekku dekat dengan jalan raya Banda Aceh-Medan dan di depan rumahnya ada sebuah kios yang dulunya dibuat oleh omku yang sering kami panggil Om Naz, karena Omku merantau ke Jakarta maka kios itu dikelola oleh orang tuanya dan adik satu-satunya yang lebih akrab kami panggil Acut. Saat hari itu kami sedang duduk di kios itu dan adikku sedang berjalan-jalan di depan kios dan sangat dekat dengan jalan. Tiba-tiba terdengar suara ledakan di sebelah barat yang ternyata sebuah truck Brimob dengan pasukannya di tembak oleh saparatis dan terguling ke paret, spontan adikku menangis karena dia bisa melihat langsung ke arah barat. Bunda pun berlari ke tempat adikku berdiri dan langsung dirangkul masuk ke rumah nenek. Kemudian kontak senjata pun terjadi, hari semakin gelap kemudian terdengar suara seperti ledakan tak terhitung lagi berapa kali, Acutku mengintip melalui WC dan dia melihat gumpalan asap yang sangat tebal yang ditebaknya ledakan yang berasal dari rumah yang terbakar. Kemudian Acut memberitaukan kepada kami untuk segera pergi dari rumah, lalu kami mengambil beberapa pakaian dan akan lari ke kampung tetangga yaitu ke rumah Ibunya kakek, disitu kami rasa aman. Acut dan kakek mengeluarkan sepmornya, yang paling aneh saat itu satu sepmor kami muat berlima Acut, Bunda, Kakak, Aku, dan Adikku, sedangkan Kakek hanya membonceng nenek. Kami harus mengambil jalan jauh untuk menuju ke rumah Ibu kakekku, karena jalan dekat yang biasa kami lalui tidak mungkin kami lalui, karena jalan tersebut berada di sebelah barat, walaupun jauh kami tetap harus mengambil jalur sebelah timur. Setelah kontak senjata mereda, kami baru mengetahui apa yang ditebak Acut tadi benar, bagian sebelah barat kampung nenekku telah ludes di lalap api, sekolah baruku hanya tinggal puing-puing. Maka hari senin yang telah ditetapkan aku tidak bisa masuk sekolah.
***
Keadaan ekonomi kami bisa dikatakan susah, pertama kami hanya mengandalkan gaji pensiun Abah, tapi tidak cukup karena Abahku hanya lulusan SMP. Akhirnya Bunda memikul beban yang sangat berat, pagi bangun sebelum subuh untuk bersiap-siap untuk jualan di sekolahku, siangnya membuat batu bata, dan juga ke sawah, bahkan kadang-kadang malam baru sempat ke sawah. Walaupun Bunda tidak pernah menyerah, tetap dengan semangatnya yang membara untuk menyekolahkan kami hingga berhasil, begitu juga kami sekolah dengan penuh semangat hingga kini aku sudah duduk di bangku SMAN 1 Bireuen yang merupakan sekolah terfavorit di kotaku, kakakku juga sangat menghargai kerja keras Bunda hingga kini dia sedang melalui pendidikan di salah satu Universitas ternama di Aceh, dan begitu juga dengan adikku yang manja yang sekarang hampir menamatkan SD. Namun dengan perjuangan akhirnya Bunda menjadi PNS dan di tempatkan di SD kampung nenekku.
Saat aku masuk SMP tahun 2004 kami pulang kembali ke rumah kami.

Yang sangat menyedihkan sampai sekarang Abah belum ditemukan bahkan kuburannya saja kami tidak tau, tiap hari raya kami sangat sedih melihat orang-orang bertakziah ke makam orang tuanya, tapi kami hanya bisa ngaji di rumah untuk Abah.
==SEKIAN==
Aku sekarang
AKU SEKARANG YANG SUDAH BERUSIA 17 TAHUN
Aku saat Kejadian
AKU SAAT KEJADIAN UMUR 7 TAHUN
Abah
Abah
Kami Sekeluarga
KAKAKKU (10 TAHUN), ADIKKU (2 TAHUN), Bunda dan Aku (7 TAHUN) — Foto setelah kejadian.

20 responses to this post.

  1. lon tuan juan urueueng matang….

  2. Posted by era on Mei 30, 2009 at 6:21 pm

    cerita emang bagus, dek. kakak jadi terharu

  3. Posted by ramadhanerdi on Juni 3, 2009 at 4:32 pm

    daerah teh bang??

  4. Posted by ramadhanerdi on Juni 3, 2009 at 4:33 pm

    makasih kak..

  5. lon daerah rumoh sikula min….

  6. Posted by Nasriza Nasir on Juni 5, 2009 at 6:10 pm

    selamat ya udah menang kompetisi menulis untuk aceh😀

  7. […] Pemenang Hadiah Hiburan : Alimuddin (Hujan Aceh) Pemenang Hadiah Hiburan : Ramadhanerdi (Kisah Pahit Keluargaku Saat Konflik) […]

  8. @aulia owh di neuhen bg.. Abg yg kul di UI y?

  9. Tqs bos…

  10. Makasi ABC,, n pihak sponsor

  11. ramadhan…terus update ya blognya…

    Selamat… terus berkarya

  12. Posted by Ramadhan on Juni 11, 2009 at 5:37 pm

    @Tengku Muda okeyy.. tq bang,, uda mampir..

  13. Posted by Kiee on Juni 13, 2009 at 6:54 pm

    Sedih bacanya , aku doakan sibzent sekeluarga sehat selalu dan sibzehnt blajar yg giat songsong masa depan dgn keyakinan dan buat orang tua mu bangga

  14. Posted by Ramadhan on Juni 14, 2009 at 6:42 am

    makasi kiee,,
    Cwaperz..

  15. Posted by Telegraph on Juni 17, 2009 at 4:56 pm

    Gw bsa mngerti perasaan di atas. Krna di tmpat gw jg sering trjadi suasana mencekam, penculikan, pembunuhan dan hal2 sadis lainya! Smoga mereka yg brtanggung jawab di azab di hari akhir!

  16. Hi erdi… abg turut berempati atas kisah keluarga kamu. Sabar ya.
    Any way… tulisan kamu bagus2, terus berkarya ya. semoga kamu jadi orang sukses.

  17. Posted by Ramadhan on Desember 10, 2009 at 8:00 pm

    makasih bang, but erdi tu my father name

  18. Posted by boy on Agustus 6, 2010 at 11:17 pm

    lon tuan ureung matang syit, lon tuan turut berduka syit ateuh kejadian dro neuh.
    ta melake bak po teuh Allah, gob nyan beroh dalam syurga dan be getempatkan bak posisi yang got.

  19. @boy Amiin, terimong geunaseh bang

  20. Posted by charles simarmata on Mei 20, 2013 at 12:46 am

    bersabar ya sob, kisah kita jg sama. pada masa konflik memang byk penculikkan dan pembantaian di depan mata bahkan prmerkosaan korban dr pihak keluargaku. peristiwa ini membuatku sock berat san 1 tahun hidupku di selimuti rasa takut yg mengerikan setiap melihat aparat berseragam. namun itu sejarah pahitku yg sdh berlalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: